Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati soal proyeksi perekonomian di kuartal ketiga tahun ini bakal mencapai minus 2,9 persen secara implisit menegaskan bahwa resesi sudah pasti terjadi dalam waktu dekat. Lalu bagaimana masyarakat seharusnya menyikapi hal tersebut?dan seperti Apa Resesi Ekonomi?

Resesi adalah penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan dan berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Mengutip Forbes, resesi ekonomi terjadi ketika produk domestik bruto (PDB) negatif, meningkatnya pengangguran, penurunan penjualan ritel dan kontransi pendapatan dan manufaktur untuk jangka waktu yang lama.

Ada banyak penyebab terjadinya resesi ekonomi di suatu negara. Melansir Tirto.id, berikut di antaranya:

Guncangan ekonomi tiba-tiba
Utang berlebihan
Gelembung aset
Inflasi tinggi
Terjadi deflasi
Dalam buku Mewaspadai Terulangnya Krisis Ekonomi 1998 dan Upaya Pencegahannya (2020) karya Eri Hariyanto, resesi ekonomi umumnya terjadi kurang dari satu tahun dan dianggap suatu gejala yang normal.

Sejumlah ekonom menyarankan masyarakat untuk mengelola keuangan pribadi dan keuangan secara konservatif dan tetap memperhatikan profil risiko tiap individu.

Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Perbanas Aviliani, misalnya, mengatakan pendapatan masyarakat yang turun selama pandemi butuh sistem yang konservatif. “Tahun ini memang sangat berat. Secara general pola pengaturan keuangan yang konservatif dan lebih teliti pada tahun ini sangat diperlukan,” katanya.

Baca Juga:Cara Mendapatkan Uang dengan Modal Smartphone

Ia menyarankan kelompok masyarakat yang sangat tertekan yakni masyarakat kelas menengah bawah karena pendapatannya bisa turun hingga 2 persen, harus lebih teliti dalam menyusun semua anggaran dan lebih fokus hanya pada belanja primer. “Semua jenis cicilan berat khususnya kredit pemilikan rumah, harus secara proaktif meminta pihak perbankan untuk restrukturisasi,” ucap Aviliani.

Bila hal itu masih belum cukup meringankan, solusi subsidi gaji dari pemerintah dapat menjadi pilihan untuk dapat menambal defisit anggaran tahun ini.

Selain itu, yang juga penting adalah tidak terlalu mengandalkan pinjaman jangka pendek seperti kartu kredit atau bahkan dari fintech yang bunganya tinggi.

Sedangkan untuk kelas masyarakat kelas menengah atas yang pendapatannya masih tumbuh meski tipis, Aviliani meminta kebiasaan menabung tetap dilakukan. Meski begitu, instrumen tabungan atau investasi harus tetap harus sesuai dengan kebutuhan konsumsi selama pandemi.

Jika tidak ada rencana konsumsi besar, tabungan dapat dialihkan ke simpanan berjangka yang bunganya berkisar 4,5 persen per tahun. “Bahkan jika prediksi tentang idle money masih besar, maka penempatan pada surat utang negara bisa jadi lebih relevan. Atau bisa memilih instrumen di pasar modal, yang mana banyak saham perusahaan bagus sedang diskon,” kata Aviliani.

Sementara itu, Executive Vice President Head of Wealth Management and Premier Banking Commonwealth Bank Ivan Jaya mengungkapkan langkah yang paling bijak adalah memastikan bahwa portofolio investasi telah terdiversifikasi dengan baik sesuai dengan profil risiko investasi tiap investor.

Untuk nasabah dengan profil risiko balanced atau berimbang, Ivan menyebutkan, porsi investasi bisa ditempatkan di kelas aset saham dan kelas aset pendapatan tetap atau obligasi.

“Investasi di obligasi negara Republik Indonesia dengan tenor pendek cukup menarik karena relatif tidak mengalami volatilitas tinggi,” ujar Ivan. Ia mencontohkan Obligasi Negara Ritel (ORI) ke-18 yang ditawarkan oleh pemerintah pada Oktober 2020 mendatang bisa jadi pilihan.

Ivan menyebutkan, investor bisa memilih reksa dana dengan strategi investasi saham berkapitalisasi pasar jumbo atau big caps. Underlying dari reksa dana itu lebih baik menghadapi goncangan pergerakan pasar.

Yang penting, kata Ivan, pilihan portofolio investasi harus sesuai dengan profil risiko tiap investor. Tujuannya, agar dapat berinvestasi dengan nyaman terutama apabila pergerakan pasar tengah volatile seperti saat ini.

Baca Juga :Ide Bisnis Tanpa Modal, Mulai Aja Dulu

Hal yang harus dilakukan jika resesi terjadi

Di tengah ancaman resesi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar keuangan Anda tidak terdampak resesi. Mengutip Good Housekeeping UK, berikut empat hal yang bisa dilakukan:

1. Menyiapkan dana darurat

Jika saat ini Anda berada dalam posisi di mana Anda masih memiliki pendapatan dan menabung, maka ini adalah saat yang tepat untuk mulai berpikir tentang dana darurat. Anda bisa memasukkan kelebihan uang tunai ke dalam rekening tabungan yang mudah diakses, tanpa denda atau potensi kehilangan uang berupa bunga.
Besaran dana darurat harus sekitar tiga sampai enam bulan untuk pendapatan. Jika Anda sudah memilikinya, lihat apakah Anda bisa membuatnya menjadi 12 bulan. Dana darurat dapat membantu jika Anda kehilangan pekerjaan atau bahkan membantu membayar tagihan yang tidak terduga.

2. Kurangi pengeluaran yang tidak perlu

Jika Anda belum melakukannya, sekaranglah waktunya untuk meninjau pengeluaran yang sudah dilakukan mulai dari listrik, telepon, layanan internet hingga hipotek.

Di saat pandemi seperti sekarang, ini berarti pengeluaran Anda akan sedikit berbeda dari biasanya, jadi kembalilah ke awal tahun ini untuk melihat pengeluaran yang tidak perlu tersebut.

3. Pangkas tagihan kartu kredit dan Lunasi Utang

Jika Anda membayar bunga apa pun pada kartu kredit Anda, inilah saatnya berhenti. Beralih ke kartu saldo 0% dapat memberi Anda waktu hingga 30 bulan untuk melunasi hutang Anda tanpa bunga apa pun, selama Anda menjaga pembayaran minimum.

Jangan pernah menggunakan kartu ini untuk berbelanja. Tujuan utama adalah melunasi tagihan kartu kredit.

4. Bangun bisnis sampingan

Jika Anda memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan, sekarang bisa menjadi waktu yang tepat untuk memulai pekerjaan sampingan.

Anda dapat melakukan beberapa pengajaran online seperti mengajar bahasa atau alat musik, atau menjual makanan untuk penghasilan tambahan.

SumberTempo.co
kontan.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *